Kisahku 2004, Realita Perjalanan Jurnalis Saat Menjadi Mekanik dan Pengusaha

opini213 Dilihat

Opiniku

Liputan01.com– Menjadi seorang wartawan sejak Aktive 2002 kala itu, sempat fakum dua tahun dan aktif kembali menjalankan profesinya di tahun 2004 sampai saat ini, berawal dari kisahnya saat ia diterima menjadi salah satu wartawan lokal di perusahaan media mingguan (tabloid) yang ada dimakassar sulsel.

Berbicara soal gaji atau pendapatan, tentunya tidak menentu, semua itu dari menariknya tulisan yang menjadi minat pembaca, pekerjaan sebagai wartawan masa itu tidak semuanya dapat memenuhi kebutuhan hidup dengan menanggulangi keluarga dan dua orang anak. “Setahun pertama upah yang ia terima Rp 450 000 ribu sebulan di tahun 2004. Haryadi pun sempat ingin menyerah menjadi wartawan dikarenakan upah yang tidak sesuai harapan dan kebutuhan hidup keluarga “ungkapnya.

Meski dari gaji minim tidak memuaskan, namun ia bangga ada nilai tersendiri menjadi seorang wartawan, bisa kenal dan dikenal dengan banyak orang dari berbagai kalangan dan tidak mengharuskan duduk seharian di kantor yang dirasa sangat menjenuhkan.

Haryadi pun kemudian berpikir untuk mencari uang tambahan dengan cara halal, pikirnya akan kembali menggeluti dunia Automotive (Mechanic) yang sempat cukup lama ditekuninya masa itu.

Sebuah bengkel motor yang menjadi profesinya di tahun 2002 lalu dijalaninya,“Dari sini uang yang didapat cukup lumayan, apalagi Hariadi masih hidup berempat bersama istri dan dua orang anak.

Hari terus berjalan waktu terus berlalu, “ia pun bingung yang mana jadi prioritas utama dalam pekerjaan. mekanik tetap berlanjut cuman terkadang sulit mengatasi fokus di salah satu pekerjaan, karena repotnya membagi waktu dengan peliputan berita juga mengerjakan kendaraan milik orang.

Tahun 2017 dengan berbagai pertimbangan, ia pun keluar dari koran lokal tempat awalnya bekerja sebagai jurnalis dimedia cetak tablod, “saat itu, sebagai wartawan biro.

Haryadi kembali merintis perkerjaan yang sudah lama ia tinggalkan sebagai seorang mekanik mesin mobil/motor. Usaha ini membuat pendapatannya sedikit meningkat dibanding kala itu. Namun sayang hanya berjalan beberapa tahun saja karena terkendala dengan modal dan banyaknya persaingan didunia Automotive paparnya.

Ia pun tak mau menyerah setelah usaha sampingannya tidak berlanjut, Haryadi pun bermohon di salah satu perusahaan Honda Astra, “sebuah perusahaan (dealer) Honda yang ada di Makassar, “al hasil, Ia pun diterima sebagai guru pembimbing dengan bakat dan keterampilan yang ia miliki menjadi kepala mekanik Honda.

Lagi-lagi pekerjaan itu tidak bertahan lama setelah dua tahun berjalan, perusahaan tempatnya bekerja dialer Honda di Makassar di tutup karna kekurangan modal dan bahan sperpak model terbaru, kini Haryadi tidak beraktifitas lagi, iapun merintis usaha baru dengan membuka perbengkelan di tempat lokasi rumahnya dengan mengajukan permohonan menggunakan dana bantuan Koprasi Usaha Rakyat (KUR) namun usaha tersebut sia-sia dan tidak berkelanjutan lama dengan lokasi tidak strategis dijangkau oleh pelanggan.

Bagi Haryadi jatuh-bangun dalam usaha dianggap sebagai hal biasa. Semua itu dinilai bagian dari jalan menuju kesuksesan di masa depan,

Namun yang jelas menurutnya, ia tidak ingin meninggalkan profesi wartawan dan bakat mekanik yang dimilikinya, ia tetap optimis dan semangat menjalankan profesinya untuk mendapatkan rezeki yang halal, apalagi dengan media online yang begitu banyak dan menjamur tentu banyak persaingan.

Meski begitu, haryadi tetap bersyukur hidup sederhana bersama anak dan istrinya,”ia berkeyakinan kelak memiliki usaha dan perusahaan media sendiri dan tidak bertumpuh lagi dari orang lain.(*)

 

Penulis : Haryadi Talli

Komentar